KUA CILIMUS

Kandungan Hikmah Surat Al-Mumtahanah Ayat 5: Ustadzah Nani Nuraeni Ajak Jamaah MT Al-Falah Teladani Keteguhan Iman Nabi Ibrahim

KUNINGAN, 01 Agustus 2025 – Majelis Taklim (MT) Al-Falah di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, menyelenggarakan pengajian rutin Jumat pagi pada 1 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB. Kegiatan yang dihadiri oleh Ibu Ketua RT, anggota PKK, dan jamaah majelis taklim ini menghadirkan pemateri Ustadzah Nani Nuraeni, S.Ag, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Cilimus, dengan mengupas tafsir dan hikmah Surat Al-Mumtahanah ayat 5.

Ustadzah Nani memulai kajian dengan membacakan ayat yang menjadi fokus pembahasan:

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 5)

Ayat ini, menurut Ustadzah Nani, merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya yang penuh keteguhan iman.

“Ini adalah contoh keteladanan dari Nabi Ibrahim, seorang yang teguh pendirian meski diuji dengan pembakaran, pengusiran, dan ancaman dari kaumnya. Beliau mengajarkan kita untuk berserah diri hanya kepada Allah,” jelasnya.

Ustadzah Nani menguraikan 3 pelajaran utama yang dapat dipetik dari ayat tersebut:

  1. Tawakal: Bersandar Hanya kepada Allah

Tawakal bukan berarti pasif, tetapi berusaha maksimal kemudian menyerahkan hasil kepada Allah.

“Kita kerja keras mencari rezeki, tapi yakin bahwa rezeki itu datang dari Allah. Kita berobat saat sakit, tapi sembuhnya atas kehendak-Nya,” terang Ustadzah Nani.

  • Inabah: Kembali kepada Allah dengan Taubat

Inabah (kembali kepada Allah) adalah inti dari taubat nasuha.

“Setiap kali tergelincir dalam dosa, segeralah bertaubat. Jangan menunda-nunda seperti orang yang menumpuk sampah di rumahnya,” sindirnya dengan analogi yang mudah dipahami.

  • Keyakinan akan Kembali kepada Allah

Peringatan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Allah harus menjadi pengingat dalam setiap langkah hidup.

“Harta, jabatan, bahkan anak-anak kita, semuanya titipan. Suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, gunakan semua itu di jalan yang diridhai-Nya,” pesannya.

Ustadzah Nani menekankan bahwa ayat ini sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang, seperti:

  • Materialisme yang membuat manusia lupa akhirat.
  • Hedonisme yang menjerumuskan dalam maksiat.
  • Stres dan depresi akibat kurangnya tawakal.

“Banyak orang galau karena takut miskin, takut tidak lulus ujian, takut tidak menikah. Padahal, jika kita bertawakal seperti Nabi Ibrahim, hati akan tenang,” ujarnya.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Ibu Rina (Pengurus PKK):

“Bagaimana cara melatih tawakal dalam mendidik anak yang sulit diatur?”

Ustadzah Nani menjawab:

“Didik dengan sabar, berdoa, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Jangan stres jika anak belum berubah. Proses kita mendidik adalah ibadah, hasilnya Allah yang tentukan.”

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadzah Nani, memohon kekuatan iman dan keteladanan seperti Nabi Ibrahim.

Sebagai penegasan, beliau berpesan:

“Jadilah seperti Nabi Ibrahim: teguh pendirian, pantang kompromi dengan kemungkaran, dan totalitas tauhidnya hanya untuk Allah.”

Yudi Sofiyudin (KUA Cilimus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top