KUA CILIMUS

Tablig Akbar di Desa Linggasana: Psikolog Nida Nadia Bagikan Tips Ajarkan Anak Cinta Masjid

LINGGASANA, 28 Juli 2025 – Suasana halaman Balai Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, pagi itu tampak semarak. Ratusan peserta dari kalangan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Majelis Taklim, dan Remaja Masjid memadati lokasi untuk menyimak Tabligh Akbar di Acara Dirosah Islamiyah triwulan ke-3 putaran pertama. Acara yang digelar pada Minggu (28/7/2025) pukul 07.30–12.00 WIB ini menghadirkan narasumber kompeten, Nida Nadia, M.PSi., seorang psikolog asal Kuningan, yang membawakan materi tentang “Kiat Mengajak Anak ke Masjid dalam Perspektif Psikologi”.

Dalam pemaparannya, Nida Nadia menekankan pentingnya menanamkan kebiasaan positif sejak dini, termasuk mengajak anak ke masjid. “Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pembentukan karakter dan sosialisasi anak dalam lingkungan religius,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan, orang tua harus memahami pendekatan psikologis agar anak tidak merasa terpaksa.

“Anak-anak memiliki fase perkembangan kognitif dan emosional yang berbeda. Jika dipaksa, mereka justru bisa trauma atau menganggap masjid sebagai tempat yang tidak menyenangkan,” jelasnya.

Berikut beberapa strategi yang dibagikan Nida Nadia berdasarkan kajian psikologi perkembangan:

  1. Kenalkan Secara Bertahap

Mulailah dengan durasi singkat, misalnya 10–15 menit untuk shalat wajib, lalu perlahan diperpanjang. Anak usia balita bisa diajak shalat berjamaah di shaf belakang tanpa dipaksa mengikuti seluruh rangkaian.

  1. Jadikan Pengalaman Menyenangkan

“Orang tua bisa membawa mainan sederhana yang tidak mengganggu, seperti buku cerita islami atau puzzle, untuk membuat anak betah,” saran Nida. Hindari memarahi anak jika mereka rewel, tetapi berikan pengertian dengan bahasa yang lembut.

  1. Berikan Teladan dan Apresiasi

Anak cenderung meniru orang tua. Jika ayah dan ibu konsisten ke masjid dengan semangat, anak akan menganggapnya sebagai kebiasaan baik. Berikan pujian atau reward kecil ketika anak mau ikut serta.

  1. Libatkan dalam Kegiatan Ramah Anak

DKM dan Remaja Masjid bisa merancang program khusus, seperti “Hari Anak Masjid” dengan aktivitas mendongeng atau lomba mewarnai kaligrafi. “Ini membuat anak mengaitkan masjid dengan kesan positif,” tambah Nida.

  1. Pahami Karakter Anak

Setiap anak unik. Ada yang mudah beradaptasi, ada juga yang butuh pendampingan ekstra. Orang tua harus peka terhadap kebutuhan emosional anak tanpa membandingkan dengan anak lain.

Acara yang dipandu oleh moderator dari DKM setempat ini berlangsung interaktif. Banyak peserta mengajukan pertanyaan, seperti cara menghadapi anak yang tantrum di masjid atau strategi mengajak remaja yang mulai malas berjamaah.

“Alhamdulillah, materi ini sangat aplikatif. Kami dari DKM akan merancang program yang lebih ramah anak,” ujar salah satu peserta.

Di akhir sesi, Nida Nadia berpesan, “Membangun generasi mencintai masjid adalah investasi jangka panjang. Butuh kesabaran, kreativitas, dan kolaborasi antara orang tua, tokoh agama, dan masyarakat.”

Acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian santunan untuk anak yatim, mengukuhkan semangat berbagi di bulan Muharram.

Reyazul Jinan H. (KUA Cilimus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top