KUNINGAN, 21 Juli 2025 – Majelis Taklim (MT) An-Nur Kabupaten Kuningan kembali menggelar pengajian rutin dalam rangka program Bimbingan Penyuluhan Agama Islam, yang kali ini mengangkat pembahasan mendalam tentang tafsir dan kandungan Surat Al-Baqarah ayat 155. Acara yang diselenggarakan pada Senin, 21 Juli 2025 pukul 13.00 WIB ini menghadirkan narasumber Ustadzah Neni Nuraeni, S.Ag, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cilimus.
Kegiatan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu Majelis Taklim dan anggota PKK, yang hadir untuk menimba ilmu serta memperdalam pemahaman Al-Qur’an. Pengajian ini menjadi momen penting dalam memperkuat ketahanan spiritual masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ustadzah Neni memulai kajian dengan membacakan ayat tersebut:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran besar tentang hakikat ujian dalam kehidupan dan bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapinya. Berikut penjabaran mendalam yang disampaikan:
1. Bentuk-Bentuk Ujian dalam Ayat Ini
Allah SWT menyebutkan lima jenis ujian yang akan dialami manusia:
- Ketakutan (Al-Khauf): Bisa berupa ancaman keamanan, ketidakpastian, atau kekhawatiran akan masa depan.
- Kelaparan (Al-Juu’): Kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.
- Kekurangan harta (Naqshun min Al-Amwaal): Kerugian finansial, kebangkrutan, atau musibah yang mengurangi kekayaan.
- Kehilangan jiwa (Naqshun min Al-Anfus): Kematian orang tercinta atau penyakit yang menggerogoti kesehatan.
- Gagal panen/kekurangan hasil (An-Naqsh min Ats-Tsamaraat): Kegagalan usaha atau tidak tercapainya harapan.
Ustadzah Neni menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang harus dihadapi setiap muslim dengan kesabaran dan keimanan.
2. Makna Sabar dan Kabar Gembira bagi Orang-Orang Sabar
Ayat ini diakhiri dengan janji Allah bagi orang-orang yang sabar. Ustadzah Neni menjelaskan bahwa sabar dalam Islam bukan berarti pasif, melainkan:
- Sabar dalam ketaatan: Tetap istiqomah beribadah meski dalam kesulitan.
- Sabar menjauhi maksiat: Tidak tergoda untuk melakukan hal haram saat terdesak.
- Sabar atas takdir: Menerima ketentuan Allah dengan lapang dada.
Allah menjanjikan kabar gembira bagi mereka, yang menurut tafsir ulama mencakup:
- Ampunan dosa (QS. Az-Zumar: 10)
- Pahala tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10)
- Kemenangan di dunia dan akhirat (QS. Ali Imran: 200)
3. Pelajaran yang Bisa Diamalkan dalam Kehidupan
Ustadzah Neni memberikan tips praktis dalam menghadapi ujian berdasarkan ayat ini:
- Perbanyak dzikir dan doa agar hati tenang.
- Tingkatkan sedekah, karena harta yang disedekahkan akan diganti oleh Allah.
- Jaga silaturahmi, karena bisa menjadi jalan solusi dari masalah.
- Yakinlah bahwa setiap kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Sesi tanya jawab berlangsung hidup, dengan beberapa pertanyaan menarik, seperti:
- “Bagaimana cara membedakan antara ujian dan azab?” Ustadzah Neni menjawab bahwa ujian diberikan kepada orang beriman untuk mengangkat derajatnya, sedangkan azab biasanya akibat dosa dan sering disertai peringatan sebelumnya.
- “Apa kiat agar tidak putus asa saat diuji berat?”Beliau menekankan pentingnya memiliki teman atau majelis taklim yang mendukung, serta membaca kisah-kisah sabarnya para Nabi.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadzah Neni, memohon kekuatan iman dan kesabaran dalam menghadapi segala ujian. Para jamaah pulang dengan pemahaman baru bahwa ujian adalah bagian dari proses pendewasaan iman.
Ketua MT An-Nur berharap kajian tafsir seperti ini bisa rutin diadakan, karena membantu jamaah memahami Al-Qur’an secara lebih mendalam. “Dengan pemahaman yang benar, kita bisa lebih siap menghadapi kehidupan,” ujarnya.
Thobroni (KUA Cilimus)




