KUA CILIMUS

Bimbingan Penyuluhan di MT Miftahul Jannah Desa Linggamakear: “5 Rintangan Mendapatkan Ketakwaan”

LINGGAMAKEAR, 18 Juli 2025 – Majelis Taklim (MT) Miftahul Jannah Desa Linggamakear menggelar bimbingan penyuluhan agama pada Jumat, 18 Juli 2025, pukul 14.00–15.30 WIB. Acara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat setempat, termasuk Ibu Kepala Desa dan Ibu Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta jamaah majelis taklim. Sebagai narasumber, hadir Ustadz Saeful Anam, S.Sos, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cilimus, yang membawakan materi menarik bertajuk “5 Rintangan Mendapatkan Ketakwaan” bersumber dari Kitab Nashoihul Ibad bab Humasi part 2.

Dalam penyuluhannya, Ustadz Saeful Anam menjelaskan bahwa banyak orang menginginkan ketakwaan, namun seringkali terhalang oleh pilihan-pilihan yang justru menjauhkannya dari ridha Allah SWT. Berikut lima rintangan yang dibahas:

1. Memilih Berat daripada Nikmat

Allah SWT memberikan banyak kemudahan dalam beribadah, namun manusia sering mempersulit diri dengan anggapan bahwa semakin berat suatu amalan, semakin besar pahalanya. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan. Ustadz Saeful mencontohkan, “Tidak perlu memaksakan puasa sunnah jika justru membuat tubuh lemah dan menghambat kewajiban lain.”

2. Memilih Kepayahan daripada Kesenangan

Sebagian orang menganggap bahwa hidup harus selalu susah agar dianggap shaleh. Padahal, Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati rezeki yang halal selama tidak melalaikan kewajiban. “Bersyukur dan menikmati nikmat Allah dengan benar justru bagian dari ketakwaan,” tegas beliau.

3. Memilih Kehinaan daripada Kemuliaan

Ketakwaan seharusnya mengantarkan seseorang pada kemuliaan, baik di dunia maupun akhirat. Namun, ada yang justru membiarkan dirinya terhina karena kurang percaya diri dalam kebaikan. Ustadz Saeful mengingatkan, “Seorang mukmin harus bangga dengan identitas keislamannya dan tidak rendah diri di hadapan kemaksiatan.”

4. Memilih Diam daripada Berlebihan dalam Bicara

Meski diam lebih baik daripada berkata sia-sia, diam juga bisa menjadi masalah jika digunakan untuk menghindari amar ma’ruf nahi munkar. “Jika melihat kemungkaran, kita harus berani menegur dengan cara yang baik, bukan diam saja,” pesan Ustadz Saeful.

5. Memilih Amalan untuk Kebahagiaan Setelah Mati daripada Kesenangan Dunia

Ini adalah rintangan terbesar. Banyak orang lebih mengutamakan kesenangan dunia yang sementara, padahal kehidupan akhirat jauh lebih kekal. Ustadz Saeful mengajak jamaah untuk selalu mengingat kematian dan memprioritaskan amal jariyah.

Kehadiran Ibu Kepala Desa dan Ibu Ketua BPD menunjukkan dukungan penuh pemerintah desa terhadap kegiatan keagamaan. Dalam sambutannya, Ibu Kepala Desa menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan bimbingan ini.

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan pemahaman agama masyarakat, sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah,” ujarnya.

Para jamaah juga terlihat antusias menyimak materi, bahkan beberapa mengajukan pertanyaan tentang cara mengatasi rintangan-rintangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir acara, Ustadz Saeful Anam berpesan agar ilmu yang didapat tidak hanya menjadi wawasan, tetapi juga diamalkan. Beliau juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk membentuk masyarakat yang lebih religius dan berakhlak mulia.

Reyazul Jinan H ( KUA Cilimus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top