BANDORASAWETAN, 4 Juli 2025 – Suara lantang Ust. Yudi Sofiyudin, Penyuluh KUA sekaligus khatib Jum’at di Masjid Nurul Huda, menggetarkan hati jamaah. Dalam khutbahnya yang penuh hikmah, ia mengajak hadirin merenung: “Mengapa Nabi Musa justru meminta kelapangan hati, bukan kekuatan atau harta, saat diperintah menghadap Fir’aun?”
Khutbah yang Menyentuh Relung Hati Pada Jum’at (4/7/2025) ini, Ust. Yudi mengangkat tema “Kelapangan Hati adalah Kunci Mudahnya Segala Urusan”. Beliau membuka dengan kisah Nabi Musa AS yang diperintahkan Allah untuk mendakwahi Fir’aun.
“Saat itu, Nabi Musa tidak meminta kekayaan, pasukan, atau senjata. Ia justru berdoa: ‘Rabbi syrahli shadri…’ (Ya Allah, lapangkanlah hatiku), tegas Ust. Yudi, disambut diam penuh perenungan jamaah. Pelajaran Berharga dari Nabi Musa:
- Hati yang Lapang, Jalan Keluar dari Setiap Masalah
Ust. Yudi menjelaskan bahwa kelapangan hati membuat seseorang tenang dalam mengambil keputusan, bahkan di saat genting sekalipun.
- Bukan Kekuatan Fisik atau Harta yang Utama, Tapi Ketenangan Jiwa
Lihatlah Nabi Musa, dengan bekal kelapangan hati, ia mampu menghadapi raja paling dzalim sekalipun,” ujarnya.
- Doa Nabi Musa adalah Bekal Terbaik bagi Umat
Jamaah diajak menghayati makna doa “Rabbi syrahli shadri, wa yassirli amri…” sebagai pegangan hidup sehari-hari.
Khutbah berlangsung hidup ketika Ust. Yudi mengajak jamaah merefleksikan diri:
- Pernahkah kita merasa sempit hati saat ada masalah?
- Mengapa kita sering meminta kekayaan atau jabatan, tapi lupa meminta ketenangan hati?
Usai khutbah, Ust. Yudi memimpin sholat Jum’at dengan khusyuk. Suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’annya menambah kekhusyukan jamaah.
“Tadinya saya datang dengan banyak beban pikiran, tapi setelah dengar khutbah ini, hati jadi lebih tenang,” ujar Pak Ahmad, salah satu jamaah. Ust. Yudi menegaskan: “Jika kita ingin dimudahkan urusan, mintalah kelapangan hati kepada Allah. Itulah kunci sebenarnya.”
Thobroni (KUA Cilimus)




